LPEK PERKUAT EKOSISTEM PARIWISATA BUDAYA-ALAM BANTEN DAN EKONOMI KREATIF CINEMA JAKARTA

Menara IBU — Lembaga Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (LPEK) melakukan rangkaian audiensi strategis dengan Pimpinan Wilayah Muhammadiyah (PWM) Banten dan PWM DKI Jakarta, Senin, 10 Agustus 2026. Dua pertemuan tersebut menghasilkan fokus pengembangan yang berbeda sesuai dengan karakteristik dan keunggulan masing-masing wilayah.

Audiensi di PWM Banten berlangsung pada pukul 10.00–12.00 WIB, dengan pembahasan utama mengenai upaya membangun ekosistem pariwisata berbasis pendekatan budaya dan alam. Sementara itu, pertemuan dengan PWM DKI Jakarta berlangsung pada pukul 19.00–21.00 WIB, dengan fokus pada pengembangan 21 subsektor ekonomi kreatif berbasis keunggulan Jakarta sebagai kota cinema, sebagaimana arah kebijakan yang dicanangkan Pemerintah Provinsi DKI Jakarta.


Audiensi dengan PWM Banten dan PWM DKI Rumuskan Arah Kolaborasi Pengembangan Potensi Daerah

Dua agenda tersebut menjadi bagian dari langkah LPEK dalam membangun model pengembangan pariwisata dan ekonomi kreatif yang tidak seragam, tetapi disesuaikan dengan karakter, potensi, identitas, dan keunggulan masing-masing wilayah.

Banten: Mengembangkan Pariwisata Berbasis Budaya dan Alam

Pertemuan LPEK dengan PWM Banten yang berlangsung selama kurang lebih dua jam menitikberatkan pada gagasan pengembangan ekosistem pariwisata berbasis budaya dan alam.

Banten memiliki kekayaan sejarah, budaya, tradisi, lanskap alam, serta berbagai destinasi yang dapat dikembangkan menjadi kekuatan ekonomi kreatif dan pariwisata. Karena itu, pendekatan yang dibangun tidak semata-mata menjadikan destinasi sebagai objek kunjungan, tetapi mengembangkan keseluruhan ekosistem yang menghubungkan budaya, alam, masyarakat, pendidikan, ekonomi kreatif, dan kewirausahaan.

Dalam perspektif tersebut, masyarakat lokal ditempatkan sebagai bagian penting dari ekosistem pariwisata. Tradisi, cerita lokal, kuliner, kerajinan, seni pertunjukan, sejarah, hingga potensi desa dapat dikemas menjadi pengalaman wisata yang memiliki nilai edukasi sekaligus nilai ekonomi.

Pendekatan ini juga membuka peluang bagi perguruan tinggi dan lembaga pendidikan Muhammadiyah untuk berperan dalam riset, dokumentasi, pengembangan konten, peningkatan kapasitas SDM, serta pendampingan pelaku usaha pariwisata dan ekonomi kreatif.

Dengan demikian, pariwisata Banten diarahkan bukan sekadar mengejar jumlah kunjungan wisatawan, tetapi membangun ekosistem destinasi yang hidup, berbasis identitas lokal, dan memberikan manfaat langsung kepada masyarakat.

Jakarta: Ekonomi Kreatif Berbasis Kota Cinema

Berbeda dengan Banten, audiensi LPEK dengan PWM DKI Jakarta pada malam hari, pukul *19.00–21.00 WIB, lebih menitikberatkan pada pengembangan *ekonomi kreatif berbasis kekuatan Jakarta sebagai kota cinema.

Gagasan tersebut dikaitkan dengan arah pengembangan Jakarta yang dicanangkan oleh Gubernur DKI Jakarta untuk memperkuat posisi Jakarta sebagai kota yang memiliki ekosistem perfilman dan industri kreatif.

Jakarta memiliki infrastruktur, sumber daya manusia, komunitas kreatif, studio, ruang publik, institusi pendidikan, pelaku industri, serta ekosistem media yang dapat menjadi modal penting dalam pengembangan industri cinema.

Dalam konteks tersebut, cinema tidak hanya dipahami sebagai produksi film, tetapi sebagai ekosistem ekonomi kreatif yang mencakup pendidikan, produksi, distribusi, promosi, festival, lokasi syuting, pariwisata, kuliner, fesyen, musik, fotografi, animasi, desain, digital content, hingga berbagai subsektor kreatif lainnya.

LPEK melihat peluang untuk mengembangkan kolaborasi yang menghubungkan potensi Muhammadiyah dengan ekosistem industri kreatif Jakarta. Perguruan tinggi Muhammadiyah, sekolah, komunitas, pusat kebudayaan, pelaku UMKM, serta dunia usaha dapat menjadi bagian dari rantai nilai ekonomi kreatif tersebut.

Dua Wilayah, Dua Keunggulan, Satu Ekosistem

Rangkaian audiensi tersebut memperlihatkan bahwa pembangunan pariwisata dan ekonomi kreatif membutuhkan pendekatan yang berbasis pada keunggulan lokal.

Banten memiliki kekuatan pada budaya dan alam, sedangkan Jakarta memiliki kekuatan pada kota, industri kreatif, media, dan cinema.

Kedua pendekatan tersebut dapat dikembangkan secara saling melengkapi. Banten dapat menjadi ruang pengembangan wisata berbasis budaya, alam, desa, sejarah, dan pengalaman lokal. Jakarta dapat menjadi pusat kreativitas, produksi konten, promosi, distribusi, dan pengembangan industri kreatif.

Dalam perspektif ekosistem, hubungan keduanya bahkan dapat membentuk rantai nilai baru. Destinasi budaya dan alam di Banten dapat menjadi lokasi produksi film dan konten kreatif, sementara ekosistem cinema Jakarta dapat menjadi mesin promosi dan storytelling yang mengangkat potensi destinasi Banten ke pasar nasional maupun internasional.

LPEK Dorong Orkestrasi Kolaborasi

Dari dua audiensi tersebut semakin terlihat pentingnya peran LPEK sebagai ruang orkestrasi kolaborasi antara Muhammadiyah, pemerintah daerah, perguruan tinggi, pelaku industri, komunitas, dan masyarakat.

Pendekatan ekosistem memungkinkan setiap wilayah mengembangkan keunggulannya sendiri tanpa kehilangan peluang untuk terhubung dengan wilayah lain.

Banten dengan kekuatan budaya dan alamnya dapat dikembangkan sebagai laboratorium pariwisata berbasis komunitas dan identitas lokal. Jakarta dengan kekuatan cinema dan industri kreatifnya dapat menjadi pusat produksi, kreativitas, teknologi, dan pasar.

Sinergi keduanya berpotensi melahirkan model baru pengembangan pariwisata dan ekonomi kreatif berbasis jejaring Muhammadiyah, yang tidak hanya berorientasi pada kegiatan, tetapi juga menciptakan nilai ekonomi, lapangan kerja, ruang kreativitas, dan kemandirian masyarakat.

Rangkaian audiensi LPEK dengan PWM Banten dan PWM DKI Jakarta akhirnya bukan sekadar agenda silaturahmi kelembagaan. Pertemuan tersebut menjadi bagian dari upaya membangun peta jalan ekosistem pariwisata dan ekonomi kreatif berbasis keunggulan wilayah: budaya dan alam Banten, serta cinema dan industri kreatif Jakarta.

Dari Banten menuju Jakarta, dari budaya dan alam menuju cinema dan kreativitas, LPEK mendorong terbentuknya jejaring baru yang mempertemukan potensi lokal, pengetahuan, teknologi, industri, dan gerakan ekonomi umat dalam satu ekosistem kolaboratif.

Post a Comment

Lebih baru Lebih lama